Selasa, 24 Maret 2015

Experinces With Jesus

1. Pengalaman bersama Yesus dalam mengusir roh jahat Oleh Maria D.R. Talan, Maria Rodrigius Kewamang, Gondisalfus M.R.K.Making Pengalaman pribadi saya bersama Yesus dimulai saat kami kemah dalam rangka memperingati hari Ultah saka yang ke-29. Untuk memperingati ultah Saka, kami biasa melakukan kegiatan kemah bersama, kegiatan ini dilaksanakan di hutan Camplong yang di ikuti sebagian anggota saka yang terdiri dari 3 gugusdepan. Kegiatan ini dibuat selama 4 hari 3 malam lamanya, karna saka wanaBakti berkecimpung di bidang kehutanan kami membuat kegiatan yaitu penanaman anakan pohon di perumahan warga. Karena anakan nya masih tersisa banyak kami pun diajak untuk menanam di area kebun gereja. Saat selesai kegiatan tersebut kami pun bergegas kembali ke buper (bumi perkemahan), setelah sampai di buper semua bergegas membersihkan diri. Semua berjalan baik-baik saja tapi tidak berlangsung lama setelah salah satu anggota bernama Bela jatuh sakit.Ia menjerit kesakitan dan ternyata ia mengalami sakit maag, setelah itu dia diobati namun tak berapa lama ada seorang anggota lain bernama Erni jatuh sakit dan menjerit sangat kuat , ia seperti orang yang sedang kerasukan. Awalnya hanya dia yang mengalami hal tersebut namun kemudian Bela pun ikut kerasukan . Di saat tubuh kami yang lelah dengan kegiatan dari pagi hingga sore kami hanya bisa berdoa kepada Tuhan dan menyanyikan lagu puji-pujian untuk mengusir roh jahat yang ada dalam tubuh anggota kelompok kami. Saya yang merasakan dan menyaksikan kejadian itu secara langsung hanya bisa bantu dengan doa dan menyanyikan pujian rohani bersama anggota yang lain. Semalam penuh kami berdoa dan bernyanyi untuk mengusir roh jahat, pada waktu itu saya merasakan betapa dahsyatnya kekuatan doa dan nyanyian, tetapi di balik itu semua saya melihat dan merasakan betapa luar biasa dan ajaib kekuatan dan kasih Yesus. Dia menyertai saya sehingga saya tidak mengalami hal yang sama seperti kedua anggota kami, saya dirangkul dan dikasihiNya sehingga saat mengusir roh jahat, roh jahat itu tidak masuk dalam tubuh saya. Kurang lebih 7 jam lamanya kami berserah kepada Tuhan dan berperang melawan roh jahat itu, dan puji Tuhan Bela dan erni pun normal kembali. Kami pun berdoa mengucap syukur kepada Tuhan. Kami pun merayakan Ultah saka, tawa pun menghiasi wajah kami semua setelah tadinya hanya ada tangis, kuasa Yesus nampak pada malam itu,Yesus mengasihi kami.Malam itu kami berpikir kalau semuanya telah selesai, kami pun menikmati seperti biasa. Keesokan harinya kami pun kembali ke aktivitas biasanya ,namun setelah anggota kami Erni selesai mandi, ia mengalami kerasukan lagi, kami pun panik dan mulai berdoa dan menyanyikan lagu pujian dan yang lain mencari pertolongan, tak lama kemudian Erni kembali normal. Kami pun mulai berkemas untuk kembali ke Kupang namun kami pun kembali terhenti karena ke-2 anggota kami kembali kerasukan, karena roh jahat itu tidak ingin kami meninggalkan hutan tersebut. Lalu mulai banyak yang kerasukan, satu persatu pun jatuh karena tidak bisa menahan roh jahat yang ada, saya pun sempat jatuh tetapi dengan doa dan kasih Yesus saya dikuatkan dan saya tidak kerasukan. Pamong saka kami muncul dan membawa penjaga hutan, setelah penjaga itu melihat yang terjadi ia pun mulai membasuhi kami dengan air, ia mulai terdiam mengucapkan beberapa kata yang hanya mampu di dengar dan dimengerti oleh dia, lalu ia memegang bagian kepala anggota yang kerasukan dan memberikan beberapa ramuan yang ia bawa. Setelah itu beberapa anggota yang ada mulai sadar dan mulai tenang,lalu kami pun berkemas dan meninggalkan hutan atau buper tersebut. Lalu sampailah di resot kehutanan camplong disitu beberapa anggota yang kerasukan beristirahat sedangkan anggota yang lain pergi ke kolam camplong untuk berenang sambil menunggu jemputan . Semua berjalan aman sampai saat jemputan kami datang, saat semua sudah bergegas naik ke mobil maka Bela dan Erni mulai kerasukan seperti para roh jahat itu tidak mau kami pergi meninggalkan hutan camplong, tapi karena kami harus tetap kembali ke Kupang kami tetap memaksakan diri untuk pulang tapi di saat itu kuasa Yesus nampak atas kami, sebelum berangkat ke Kupang kami berdoa bersama sehingga dalam perjalanan meskipun banyak yang kerasukan meronta-ronta seperti orang tak waras, dalam perjalanan dan di dalam kendaraan yang kami tumpangi yang bisa kami lakukan hanya berdoa dan berserah kepada Tuhan,dan yang lain menjaga yang kerasukan dan akhirnya kami sampai dengan selamat di Kupang. Setelah sampai di Kupang kami pun satu persatu turun dari kendaraan yang kami tumpangi ,tapi karena hampir sebagian kersukan akhirnya salah satu senior kami mengusulkan untuk membawa kami ke tempat persekutuan untuk melawat kami. Karena waktu memang sudah malam maka semua sepakat untuk pergi ke rumah hamba Tuhan tersebut. Sesampainya di sana, kami pun dilawat dan dijamah satu persatu oleh hamba Tuhan tersebut dengan beberapa hamba Tuhan yang lain setelah itu kami didoakan dan dibacakan firman Tuhan dan kami pun dibasuh dengan minyak doa, setelah itu banyak yang pulih dan pulang ke rumah masing-masing. Tetapi Erni dan Bela tetap dijamah karena hamba Tuhan itu berkata dalam tubuh keduanya sangat banyak roh jahat yang masuk dan butuh pergumulan untuk mengusirnya, sebagian dari kami pun ikut membantu seperti biasa yaitu berdoa dan bernyanyi. Memang bagi Tuhan tak ada yang mustahil, kuasa Yesus nampak luar biasa kerena tak lama bergumul akhirnya mereka berdua tenang dan perlahan pulih. Kami begitu bersyukur pada Tuhan Y esus, di tengah keresahan dan kesusahan, kami berserah padaNya dan kasihNya nampak bagi kami,kami dijaga,dan dilindungi dengan Roh kudusNya. Setelah Erni dan Bela tenang kami berdoa mengucap syukur atas hal yang kami alami, kami pun bergegas pulang, setelah semuanya kembali normal kami kembali kepada hamba Tuhan itu untuk kembali berdoa mengucap syukur atas kebaikan Tuhan. Dari kejadian itu semakin membuat saya dekat dengan Tuhan,membuat saya semakin mencintai Yesus. Di tengah kesusahan,di tengah cobaan saat berserah bersama Yesus saya temukan jalan keluar, saya temukan kenyamanan. Tuhan Yesus selalu ada buat saya. Pengalaman itu membuat saya semakin yakin kalau Yesus selalu mencintai saya meskipun dosa saya sangatlah banyak. Pengalaman bersama Yesus dalam mengusir roh jahat sungguh sangat luar biasa. Terimakasih Yesus untuk cinta kasih-Mu. 2. Pengalamanku menjalani hidup bersama Tuhan Yesus Oleh Siprianus Darus Aku lahir anak ke delapan dan memiliki 1 adik laki-laki. Sejak aku kecil kedua orang tuaku selalu mencelaku yang di anggapnya kurang baik , karna tingkahlaku semasa kecil kurang baik dibanding adikku. Saat saya sudah tidak sanggup lagi dengan tekanan dalam keluarga, aku pergi dari rumah dan hatiku selalu berdoa bila aku masih dikasih kesempatan untuk hidup di dunia, saya minta kepada Tuhan diberi orang tua, semoga bisa memaafkan aku: “Tuhan, aku mohon ampunilah segalah perbuatanku terhadap mereka maupun temantemanku”. Waktu itu aku lansung pergi ke rumah kakakku dan tinggal bersama mereka. Selama aku tinggal bersama mereka, tingkahlaku sudah berubah, karna Tuhan Yesus yang mengasihi aku. Saat aku menginjak usia 7 tahun, kakakku berusaha agar aku disekolahkan sampai aku lulus Sekolah dasar. Sesudah lulus SD, aku tidak langsung lanjut pendidikan sekolah menengah pertama selama 2thn karena aku ingin bekerja bersama kakak dan orang tuaku. Di usia 15thn, aku lanjut di sekolah menengah pertama sampai lulus. Aku melanjutkan sekolah menengah atas di usia 18thn hingga sampai selesai dan lulus di pendidikan sekolah menengah atas. Menjalani hidup bersama Yesus, aku bahagia, karna selalu membimbing dan menasihi aku selamanya Selama aku menjalani hidup sejak kecil hingga sampai sekarang, aku sangat bersukur pada Tuhan Yesus, karena semenjak aku mulai menjalani pendidikan SD, SMP, dan sampai selesai SMA aku selalu diberkatiNya. Tapi sekarang, aku menjalani hidup ini dengan tabah, karena mamaku sudah pergi semenjak aku masih di kelas 3 SMP.Sekarang aku hanya berdo’a pada Tuhan Yesus, agar Tuhan Yesus menerangi jalan yang gelap dan menunjukkan jalan yang lurus bagi arwah mamaku yang pergi meninggalkan kami. Hingga hidupku sekarang akan kujalani dengan kehilangan orang tua, aku merasa tersiksa ,dan tanpa mereka aku menjalani hidup ini penu tabah dan berdo’a. Aku akan menceritakan segala kejadian yang perna kualami. Sesudah lulus SMP dulu, waktu itu aku mengalami usus buntu. Selama aku mengalami penyakit tersebut, aku tidak bisa berbuat apa-apa, tetapi ayahku selalu berusaha mencari obat untuk penyakitku. Dari pengalaman saya berjalan bersama Yesus waktu saya mengalami penyakit tersebut , hampir sebulan di rumah sakit dan setelah keluar dari sana dan pulang ke rumah, ada hal yang membuat saya bertanya-tanya. Setelah hampir sebulan saya keluar dari rumah sakit, saya mengalami kesembuhan, ada perubahan yang saya alami. Saya bertambah sehat dan otot saya terus dipulihkan dan kondisi tubuh dari hasil kontrol dokter di rumah sakit menunjukkan perbaikan. Tuhan Yesus begitu baik kepada saya. Saya merasakan semangat untuk terus dekat dengan Dia dan bersaksi mengenai kesembuhan yang saya terima . Saya ingat bahwa iman percaya kepada Yesus itu harus diaplikasikan dengan mengasihi sesama manusia, barulah iman itu sempurna. Karena Tuhan Yesus melakukan kehendak Bapa di sorga, begitu juga dengan kita, sebesar apapun iman kita kepada Dia, kalau tidak melakukan firman itu kepada sesama manusia, iman itu mati. Itulah kasih yang sempurna. Pada saat, saya dan bapa saya merasakan pertolongan Tuhan Yesus yang dahsyat, untuk hal sakit, keuangan, dari keluarga, teman-teman, dll. Karena hal itu juga kami menjadi semakin dekat, semakin percaya kepada Dia, karena sebelum hal ini terjadi kami sudah diberitahu dulu bahwa kami akan selalu berdo’a padaNya.Kami akan berjalan menuju titik nol (ini adalah titik terendah dalam kehidupan kami), tentunya berjalan bersama Dia. Dengan kejadian ini iman kami semakin kuat dalam menjalani keseharian hidup kami. Dan karena itu juga kami berbagi dengan orang lain, mengenai pengalaman kami di rumah sakit dan keseharian kami. Saya memulai hal ini berawal dari segala yang kualami saat itu. Pada saat saya dikunjungi oleh sahabat saya David, dia memberikan renungan agar saya mulai merenungkan firman Tuhan (sebelumnya saya membaca renungan), dia mendukung saya sampai saat ini (Terima kasih sahabat). Pertama memang berat karena belum terbiasa akan membaca renungan , walau akhirnya sekarang saya sudah terbiasa dan menjadi kebiasan untuk selalu merenungkan firman dan berbagi dengan yang lain. Hari demi hari saya di rumah, merenungkan firman, dan membagi melalui facebook dan akhirnya blog. Pada awalnya saya hanya kopi dari orang lain dan menyebarkannya . Setelah itu mulai ada yang membalas satu orang, dua orang, dan akhirnya banyak yang mengirimkan renungan juga. Saya bersyukur ada tanggapan dari yang lain. Saya percaya dengan firman Yesus: “ Tabur yang baik maka akan menuai yang baik pula.” Ada beberapa pengalaman pribadi yang saya alami bersama Yesus: waktu itu saya merasakan berjalan berdua dengan Dia dan merasakan damai sejahtera yang belum pernah saya alami sebelumnya. Saya alami itu beberapa kali. Saya juga melihat malaikat (padahal kalau bapa saya lihat hanya lampu). Saya bersyukur bahwa saya mengalami itu semua. Saat ini saya merasakan hati saya yang mudah terharu. Saya merasakan bahwa hati saya sudah menjadi baru, saya biasa merasakan untuk berbagi kasih, walaupun saya masih belajar, walaupun saya masih bisa kesal, hanya saya mau menjaga hati yang baru ini, untuk terus dipulihkan, agar bisa menjadi hati yang benar.Waktu saya di rumah sakit, saya melewati masa hidup atau mati, saya sempat berpikir apakah saya akan mati atau hidup? Bapa saya juga sempat berpikir yang sama. Jawaban dari Dia adalah saya hidup, masih ada rencana Dia yang saya harus selesaikan . Saya merasakan juga bahwa saya dipanggil kembali dengan cara yang menyakitkan, hanya karena saya telah dipersiapkan sebelumnya, maka saya dan Papa saya sudah siap menghadapi ini semua, walaupun dengan susah payah kami melewatinya, hanya kami tidak kawatir karena ada Dia yang mendampingi kami. Saya juga bisa melewati ini semua karena saya dan Papa yang terutama adalah Tuhan Yesus. Dengan kejadian ini semua kami bisa dekat, lebih mengerti apa artinya kasih Kristus dan aplikasi dalam kehidupan ini. Dan saya juga diberi dukungan oleh sahabat saya Tommy dan Tino dan Deni di sekolah, untuk terus semangat. Dan teman-teman yang lain juga. Banyak bantuan yang datang kepada kami, dan kami percaya akan tabur. Kami percaya bahwa Dia tidak pernah diam untuk keperluan kami, oleh karena itu kami terus mengejar Dia dalam kehidupan kami. Di saat ada perayaan natal, saya bersikur pada Tuhan, karna Tuhan memberkati. Kita semua dan pada saat perayaan natal menikmati keramaian, dan suasana kekeluargaan. Kita saling mengucapkan SELAMAT NATAL sebagai saudara, sebagai putera/I Bapa di surga. Bermacam- macam perasaan ada pada kita : kagum, gembira, syukur. Oleh karena itu, kita patutlah bersyukur atas rahmat-Nya yang telah mengumpulkan kita di sini untuk itu diambil dari bagian dalam sukacita ini, sebagai satu keluarga. Namun, sudah pantaskah kita untuk ikut berbahagia ? (hening sejenak ): Menyadari kita adalah manusia yang lemah, yang sering jatuh ke dalam dosa yang sama, maka marilah kita mengakui dan menyesali akan segala dosa-dosa kita, baik dosa karena pikiran, perkataan, perbuatan, maupun kelalaian, yang telah menghargai hati sesama, orang tua, terlebih Hati Kudus Yesus, dengan berdoa.Saya Mengaku kepada Allah yang Maha kuasa dan kepada saudara sekalian bahwa saya telah berdosa. Dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian. Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa, oleh sebab itu saya mohon kepada Santa Perawan Maria dan kepada saudara sekalian supaya mendoakan saya pada Allah Tuhan kita. Semoga Allah yangMaha Kuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan menghantar kita pada hidup yang kekal.”””””””Amin. Segala Penjuru dunia Akan Menyaksikan Penyelamatan Oleh Allah Kita Selesai kami berdo’a dan pulang ke rumah, sampai di tengah jalan kami melihat ada sinar yang putih seperti sinar matahari. Tidak lama kemudian sinar yang pancarnya besar di dekat kami tiba-tiba hilang begitu saja. Dari situ kami berjalan terus sampai di rumah dan tiba di rumah, dalam keadaan salemat dan kami mengucapkan syukur berterima kasih pada Tuhan Yesus. Semenjak menjalani hidup bersama Tuhan Yesus yang sudah saya lalui aku sangat menyenangkan karena karuniaNya selalu memperhatikan kita sebagai umat manusia. 3. Pengalaman hidup bersama Tuhan Oleh Agustinus G. Willem, Damasus Ignasisu Dheno Rhebo, Desiderius Ndoa Sejak awal kita menapaki jalan kekristenan, itu sudah merupakan pengalaman rohani. Menjadi percaya kepada Yesus itu bukan sekedar proses menjadi tahu dan percaya tetapi adalah proses dimana Roh Kudus menginsafkan kita akan dosa. Karena itu kekristenan bukan sekedar pengetahuan. Kekristenan adalah pengalaman bersama Tuhan. Pengetahuan hanya bersifat pemikiran – pemikiran, konsep-konsep , ide – ide , dan gagasan-gagasan. Prinsipnya, kekristenan adalah pengalaman rohani bersama Tuhan. Pengalaman rohani itu sifatnya spiritual namun juga merembes ke area empiris . Mujizat kesembuhan misalnya, sifatnya supranatural namun termanifestasi secara fisik. Kekristenan akan menjadi bergairah ketika mengalami pengalaman ilahi bersama Tuhan . Mengalami banyak pengalaman rohani tidak selalu berarti bertumbuh secara rohani. Namun sebaliknya pertumbuhan rohani akan membawa kita masuk ke dalam berbagai pengalaman bersama Tuhan. Ketika kita semakin tekun mencari Tuhan pengalaman indah dan ajaib bersama Tuhan akan diberikan. Ketika kita semakin kudus, semakin suci, dan semakin hidup benar maka pengalaman – pengalaman dari Tuhan yang diterima akan semakin luar biasa. Bertumbuh dalam kesetiaan pelayanan misalnya akan membawa kita ke dalam pengalaman pelayanan yang semakin luar biasa. Pada awalnya Paulus hanya bersaksi kesana kemari, namun karena kesetiaannya Roh Kudus mengurapinya semakin dahsyat. Karunia – karunia ilahi diberikan kepadanya bahkan hingga akhirnya ia masuk dalam bilangan rasul- rasul Kristus. Karena itu yang penting bukan sekadar pengalamannya namun pertumbuhannya. Tuhan tidak pernah memberikan mujizat pengalaman tanpa maksud tertentu. Pengalaman mujizat diberikan Tuhan dengan maksud tertentu yaitu supaya kita yang mengalaminya semakin bertumbuh ke dalam Kristus. Pengalaman hidup saya bersama Tuhan di mana saya merasa Tuhan hadir dan kasihNya selalu bersama dengan saya adalah ketika saya berdoa padaNya dengan penuh keprihatinan terhadap sebuah masalah yang saya hadapi. Lewat cara yang unik Tuhan memberikan saya penghiburan lewat suatu peristiwa kecil. Di lain waktu saya terluka oleh perbuatan seseorang. Saya mengeluh kepada Tuhan bahwa saya merasa berat untuk bisa mengampuni perbuatan tersebut. Tetapi lantas saya mengalami beberapa kejadian yang memampukan saya mengampuni kesalahan itu bahkan disadarkan bahwa sebenarnya sayalah yang bersalah. Saya mengingat bahwa kadang jawabanNya datang sangat sederhana saat membaca sebuah sms, atau saat melihat potongan acara di tv. Kadang juga bertahap dan melewati sebuah proses. Sangat sering terjadi ketika sedang membaca kitab suci. Saat membaca kitab suci ternyata pergumulan hari itu saya temukan jawabannya secara langsung dari bacaan kitab suci yang saya baca pada hari yang sama. Saya merenungkan dengan pengetahuan dan kebijaksanaan saya yang begitu terbatas dan sempit saya menyampaikan doa dan mengadukan keluhan saya padaNya. Namun karena Tuhan begitu bijaksana dan mahatahu, Ia menjawab doa saya dengan kebijaksanaan yang tidak pernah dipikirkan oleh saya. Suatu ketika ada rasa malu pada diri saya ketika doa –doa yang sudah dijawab dengan indah oleh Tuhan ternyata lupa saya syukuri karena terlalu sibuk dengan urusan masalah – masalah yang lain. Padahal rasa syukur yang dalam itu memungkinkan saya berubah bagi Tuhan dan supaya saya selalu bersama dengan dia dalam segala hal. Karena Tuhan selalu menyediakan apa yang saya perlukan bahkan sebelum saya meminta secara khusus Dia sudah menyediakan yang terbaik untuk saya. Sekali lagi saya belajar menyelaraskan doa dan permohonan saya dengan apa yang dikehendaki Tuhan dan bukan karena keinginan saya semata-mata. Selain pengalaman hidup saya bersama Tuhan yang saya tulis, saya juga akan menuliskan pengalaman seseorang yang juga mengalami kasih Tuhan dalam hidupnya. Ada seorang teman yang kurang percaya akan kehadiran Tuhan dalam dunia ini. Ia bahkan menantang orang – orang di sekitarnya untuk menunjukan kepadanya kehadiran Tuhan itu. Orang – orang menjadi bingung. Namun Ia tetap ngotot agar orang – orang menunjukkan kepadanya bukti bahwa Tuhan itu hadir dalam hidup manusia. Dalam keadaan seperti itu seorang teman berkata kepadanya: “Anda punya orang yang begitu mengasihi anda? Anda tahu bahwa kasih Tuhan hadir melalui orang tua anda itu? Anda punya banyak hal untuk hidup tetapi anda mesti sadar bahwa semua itu ada karena ada yang memberi. Dan yang memberi itu adalah Tuhan.” Orang itu tidak percaya. Ia menertawakan kata – kata temannya itu. Namun temannya itu tidak pernah menyerah untuk menyadarkannya. Dan akhirnya perlahan –lahan orang itu mulai membuka hatinya dan mau percaya akan kehadiran Tuhan. Namun ia mengatakan butuh waktu untuk sampai sungguh – sungguh percaya. Hal itu disebabkan karena pengelaman kelam bersama kedua orang tuanya. Pengalaman akan kehadiran Tuhan dalam hidup dapat dipengaruhi oleh berbagai hal dalam hidup ini. Ada orang yang mampu menarik garis merah kehadiran Tuhan dalam diri orang – orang yang mencintai mereka. Ada orang yang mengalami kehadiran Tuhan pada setiap saat nafas hidupnya. Namun ada juga yang perlu bukti untuk yakin bahwa Tuhan hadir dalam hidupnya. Kisah tersebut mau mengatakan kepada kita bahwa orang boleh saja meragukan kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Namun orang mesti sadar bahwa hidup yang dimilikinya itu ada yang memberikannya. Hidup ini tidak ada begitu saja. Nafas yang menjadi andalan hidup manusia itu tidak datang sendirinya. Ada Tuhan yang memberikannya. Tuhan pula yang punya kuasa untuk menghentikan nafas kehidupan ini. Untuk itu yang dibutuhkan dari manusia adalah kesadaran bahwa Tuhan hadir dan berkarya dalam hidupnya. Ada juga pengalaman tentang seorang anak cacat yang sekarang sukses menjadi seorang penulis. Dia terlahir sebagai seorang anak normal namun saat masih balita kedua orang tuanya menemukan benjolan di punggungnya. Ternyata saraf kaki kusut di benjolan tersebut. Dokter menyarankan untuk dioperasi namun operasinya ternyata gagal dan malah menyebabkan kelumpuhan. Orang tuanya mulai mencari segala cara agar anaknya bisa kembali normal, namun segala usaha sepertinya sia – sia saja. Hingga suatu hari saat konsultasi ke seorang dokter, dokter tersebut memberikan sebuah nasihat yang berbeda. Bukan janji kesembuhan yang diberikan, karena menurutnya kemungkinan untuk sembuh itu sudah tidak ada. Dia meminta kedua orang tua anak tersebut untuk menyekolahkan anaknya saja. Anak tersebut sangat bahagia mendengar keputusan bahwa dia akan bersekolah. Keterbatasan fisiknya tidak pernah menghalangi dia untuk terus berpartisipasi dalam setiap kegiatan sekolah dan bahkan memperoleh prestasi yang memuaskan.Waktu terus berlalu dan dia mulai menyukai kegiatan membaca dan menulis untuk mengatasi waktu luangnya. Ia terus menulis dan rajin mengirimkannya kepada penerbit. Meskipun berulang kali ditolak, ia tidak pernah menyerah. Karena ia selalu berdoa dan selalu berharap pada Tuhan. Dia yakin Tuhan pasti akan membantunya. Dan keyakinannya ternyata terbukti benar. Setelah beberapa tahun ia menulis, sebuah penerbit menghubunginya dan mengatakan bahwa bukunya sudah diterbitkan. Dia sangat bahagia menerima berita tersebut. Sekarang dia sudah sukses menjadi seorang penulis dan dikenal oleh semua orang melalui tulisan–tulisannya. Memang karya Tuhan itu begitu ajaib. Apa yang tidak pernah kita pikirkan, tidak pernah timbul dalam hati, Tuhan melakukan hal itu dalam hidup kita. Sekecil apapun hal yang terjadi dalam hidup kita, itu semua merupakan bukti bahwa Tuhan selalu ada dalam setiap langkah hidup kita. Apa yang menurut kita buruk, akan diubah oleh Tuhan menjadi kebaikan, bukan hanya untuk kita namun juga untuk orang lain di sekitar kita. Pengalaman – pengalaman hidup bersama Tuhan yang telah ditulis tersebut merupakan bukti Tuhan selalu bersama dengan kita dan pastinya akan semakin menguatkan iman kita. Meskipun masih banyak orang yang sangat alergi bila berbicara tentang pengalaman hidup bersama Tuhan. Namun Tuhan tidak pernah berhenti berkarya dalam diri setiap kita. Sebab bila diteliti lebih jauh sebenarnya Gereja dan banyak orang Kristen tetap bertahan sampai hari ini salah satunya adalah karena pengalaman hidup bersama dengan Tuhan. Karena itu Gereja terus menyaksikan cinta kasih Kristus. Tuhan tidak abstrak namun bisa dirasakan. Gereja Kristen mengimani bahwa Allah itu adalah Allah yang hidup. Apabila kita mengatakan Allah itu adalah Allah yang hidup namun kita tidak pernah mengakui dan mengalami hidup bersamaNya, berarti sama saja kita tidak mengakui akan keberadaanNya. Pengalaman hidup setiap orang bersama Tuhan memang tidak dapat diukur ataupun dinilai oleh siapapun juga, tetapi hanya oleh orang yang mengalami hal tersebut. Entah itu merupakan pengalaman yang sangat membahagiakan maupun yang sederhana saja itu adalah cara Tuhan menyatakan diriNya kepada setiap orang atau GerejaNya sesuai dengan kehendakNya. Oleh karena itu, janganlah meremehkan pengalaman hidup bersama Tuhan, sebab hal itu sangat penting bagi setiap orang yang percaya kepadaNya. Yang lebih penting lagi adalah jangan takut dianggap sok bila kita menyaksikan pengalaman hidup bersama Tuhan ataupun mengalaminya. Sebab pengalaman hidup bersama Tuhan adalah bukti bahwa ia memelihara, hidup, dan menyelamatkan isi dunia baik dari segi jasmani maupun rohani. Bersyukurlah apabila sampai hari ini kita tetap mengalami pengalaman hidup bersama Tuhan Yesus yang selau hadir dalam setiap derap langkah kehidupan kita. 4. Pengalaman menarik bersama Yesus Oleh Yohanes Jawa Soli & Ignasius Mariono Dari pengalaman saya berjalan bersama Yesus, waktu saya sakit, sebelum di rumah sakit dan setelah keluar dari rumah sakit, dan setelah pulang ke rumah, ada hal yang membuat saya bertanya- tanya. Sebelum saya akan menceritakan keadaan saya saat ini, saya didiagnosa oleh dokter menderita Liver. Setelah tiga bulan, saya keluar dari rumah sakit, saya masuk rumah sakit lagi, sudah tiga kali saya keluar masuk rumah sakit. Saya mendapatakan kesembuhan dari hari ke hari, ada perubahan yang saya alami. Saya bertambah sehat, saya dipulihkan dari kondisi tubuh, dari hasil cek darah semua menunjukan kebaikan. Tuhan Yesus begitu baik kepada saya. Saya merasakan semangat untuk terus dekat dengan Dia, dan bersaksi mengenai kesembuhan yang saya terima. Saya ingat bahwa iman percaya pada Yesus harus diaplikasikan kepada pengasih sesama manusia, barulah iman itu sempurna karena Tuhan Yesus melakukan kehendak Bapa di surga, begitu juga dengan kita, sebesar apapun iman kita kepada dia, kalau tidak melakukan iman kita kepada sesama manusia, iman itu mati, Itulah kasih yang sempurna. Pada saat di icu saya dan keluarga saya merasakan pertolongan Tuhan Yesus yang dasyat untuk hal sakit, keuangan, perhatian dari keluarga, teman-teman dan lain-lain. Karena hal itu kami jadi semakin dekat, semakin percaya pada Yesus, karena sebelum hal ini terjadi, kami telah diberitahukan dulu, bahwa kami akan memasuki ujian iman, kami akan berjalan menuju titik nol (ini adalah titik terendah dalam kehidupan kami). Tentunya berjalan bersama Yesus dengan kejadian ini iman kami semakin kuat dalam menjalani keseharian hidup kami, dan karena itu kami berbagi dengan orang lain, mengenai pengelaman kami di rumah sakit dan keseharian kami.Saya memulai ini berawal dari ruang icu, pada saat saya dikunjungi oleh sahabat saya Oyesth, dia memberikan dukungan renungan agar saya mulai merenungkan firman Tuhan, (sebelumnya saya tidak pernah membaca renungan). Dia mendukung saya sampai saat ini. (terimah kasih sahabat) Pertama memang berat,karena tidak terbiasa akan membaca renungan, walau akhirnya sekarang sudah terbiasa, dan menjadi kebiasaan untuk selalu merenungkan firman Tuhan dan berbagi dengan sesama. Hari demi hari saya di rumah merenungkan firman. Ada beberapa pengalaman pribadi yang saya alami bersama Yesus, waktu saya berjalan berdua dengan orang tua, dan merasakan damai sejahtera yang belum pernah saya alami sebelumnya. Saya alami itu beberapa kali. Saya juga melihat ibu saya menangis, saya brsyukur saya mengalami itu semua. Saat ini saya merasakan hati saya yang mudah terharu. Saya merasakan hati saya sudah menjadi baru, saya bisa merasakan untuk berbagi kasih, walaupun saya masih belajar, walaupun saya masih merasa kesal. Hanya saya mau menjadi hati yang baru ini untuk terus dipulihkan agar bisa menjadi hati yang benar. Waktu saya di rumah sakit, saya melewati masalah hidup atau mati. Saya sempat berpikir apakah saya akan mati? Ibu saya juga sempat berpikir yang sama, jawapan dari dia adalah saya hidup. Masih ada rencana dia yang harus saya selesaikan. Saya menjauhi dari Dia, dan saya merasakan juga bahwa saya dipanggilkan kembali dengan cara yang menyakitkan. Bagi manusia hanya saya telah dipersiapkan sebelumnya, maka saya dan ibu saya siap menghadapi ini semua. Walaupun dengan susah payah kami melewati semua, hanya kami tidak khawatir, karena ada dia yang mendampingi kami. Saya bisa melewati ini semua karena mama saya [terimakasih mama dan saya cinta kamu] dan tentu yang utama adalah Tuhan Yesus dengan kejadian ini kami semua bisa dekat lebih mengerti apa artinya kasih Kristus dan aplikasi dalam hidup ini.Saya juga di dukung oleh sahabat saya Anis, Heri dan Eman [teman saya] di kampung untuk terus semangat dan teman-teman yang lain juga Banyak bantuan yang datang pada kami, karena kami percaya akan tabur dan tuai, kami percaya bahwa Dia tidak pernah diam untuk keperluan kami karena kami terus mengejar dia dalam kehidupan kami sebelumnya. Maka saya dan mama bapak saya sudah siap menghadapi ini semua walaupun dengan susah payah kami melewatinya. Hanya kami tidak kuatir karena Dia selalu menyertai kami. Dan saya juga diberi dukungan oleh sahabat saya Oyest di kampung untuk terus semangat dan teman-teman yang lain juga. Banyak bantuan yang datang kepada kami, karena kami percaya akan tabur dan tuai. Kami percaya bahwa Dia tidak pernah diam untuk keperluan kami, karena kami terus mengejar Dia dalam kehidupan kami. 5. Pengalaman hidup bersama Yesus Oleh Simon Petrus Olanura Puhun, Petrus Laru, Wendrans Tana Tampaknya hampir semua orang memiliki agama, jadi saya pun melakukan hal yang wajar dan pergi ke gereja. Rasanya saya salah masuk gereja, karena gereja ini hanya membuatku merasa buruk. Saya pergi ke gereja setiap pagi, sore, dan malam, tetapi tetap saja tidak menolong. Saya adalah tipe orang yang sangat praktis, dan ketika sesuatu tidak berhasil, saya menghentikannya. Jadi, saya meninggalkan agama. Saya menduga bahwa beberapa orang di perguruan tinggi di negara ini lebih bersungguh-sungguh mencari arti, kebenaran dan tujuan hidup dibanding saya. Selama waktu itu pula saya memperhatikan sekelompok kecil orang-delapan mahasiswa dan anggota dua fakultas. Ada sesuatu yang berbeda dalam hidup mereka. Nampaknya mereka mengetahui mengapa mereka meyakini apa yang mereka percayai. Mereka juga sepertinya tahu tujuan mereka. Orang-orang yang mulai menarik perhatian saya ini tidak hanya berbicara tentang kasih -- tetapi mereka melakukannya. Mereka sepertinya dapat mengendalikan keadaan di SMA. Sementara yang lain tampaknya seperti di bawah timbunan, mereka muncul memberikan arti, kedamaian yang tidak dikendalikan oleh keadaan. Apa yang mereka tampilkan semuanya muncul dari dalam, sukacita yang terus-menerus. Mereka begitu berbahagia. Mereka memiliki sesuatu yang tidak saya miliki. Seperti murid-murid pada umumnya, ketika seseorang memiliki sesuatu yang tidak saya miliki, maka saya juga menginginkannya. Jadi, saya memutuskan untuk berteman dengan orang-orang yang menarik perhatian saya ini. Percakapan dimulai dengan berbicara tentang Tuhan. 23 Mereka begitu mengusik saya, jadi akhirnya saya mencari salah satu wanita yang cantik lalu saya mundur ke belakang (saya tidak mau yang lainnya berpikir saya tertarik) dan saya berkata,"Katakan padaku, apa yang mengubah hidupmu? Mengapa hidupmu begitu berbeda dengan orang lain di sekolah ini? Wanita muda ini pasti memiliki keyakinan yang besar. Dia menatapku tajam dan mengucapkan dua kata yang tidak pernah kuduga sebagai solusi bagiku: "Yesus Kristus." Saya berkata,"Oh, demi Tuhan, jangan berikan aku sampah itu. Saya muak dengan gereja. Saya muak dengan Alkitab. Jangan berikan sampah tentang agama." Dia menyerangku balik,"Hey, saya tidak bilang agama, saya bilang Yesus Kristus." Dia menyatakan sesuatu yang tidak pernah saya dengar sebelumnya: Kekristenan bukanlah sebuah agama. Agama adalah usaha manusia untuk menuju kepada Tuhan melalui perbuatan baik; Kekristenan adalah Tuhan datang kepada pria dan wanita melalui Yesus Kristus dan menawarkan sebuah hubungan pribadi denganNya. Mungkin banyak orang di kampus yang sudah salah paham tentang Kekristenan dibandingkan di tempat lain di dunia. Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan seorang sahabat yang memberikan pendapat di sebuah seminar alumni bahwa "siapapun yang masuk kegereja, dia menjadi seorang Kristen." Saya membalas, "Apakah masuk kedalam garasi menjadikanmu sebuah mobil?" Saya berkata bahwa seorang Kristen adalah seseorang yang sungguh-sunguh percaya kepada Kristus. Ketika saya mempertimbangkan tentang Kekristenan, teman-teman baruku ini menantangku secara intelektual untuk menjelaskan tentang kehidupan Yesus. Temanteman mengajak saya memeriksa fakta-fakta keilahian Yesus. Mereka yakin bahwa Yesus adalah Tuhan dalam wujud manusia yang mati disalib untuk dosa-dosa manusia, Ia dikubur, dan bangkit tiga hari kemudian, itulah sebabnya Ia mampu merubah hidup seseorang saat ini. Saya pikir ini sebuah lelucon. Kenyataannya, saya berpikir bahwa kebanyakan orang Kristen itu idiot. Saya sudah bertemu beberapa dari mereka. Saya dulu menunggu seorangKristen akan berbicara di depan kelas sehingga saya dapat membuat mereka menangis di satu sisi dan yang lainnya menjadi patah semangat, dan meninju profesor. Saya membayangkan jika seorang Kristen memiliki sebuah sel otak yang mati karena kesepian. Saya tidak tahu yang lebih baik lagi .Tetapi orang-orang ini menantangku terus dan terus. Akhirnya, saya menerima tantangan mereka. Saya tidak memiliki bukti untuk menyangkal mereka karena tidak ada fakta. Saya berasumsi bahwa tidak ada bukti bagi seseorang untuk dapat mengevaluasi. Setelah berbulan-bulan belajar, saya sampai pada kesimpulan bahwa Yesus Kristus terbukti seperti apa yang Dia nyatakan tentang diriNya sendiri. Hal ini menjadi masalah bagiku. Logikaku mengatakan bahwa hal ini benar tetapi keinginanku bertentangan. Saya menemukan bahwa menjadi seorang Kristen berarti menyingkirkan ego. Yesus Kristus menantangku secara langsung untuk mempercayaiNya. Saya menguraikanNya sebagai berikut, "Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya" (Wahyu 3:20). Semakin sadar bahwa saya membenci kehidupan saya. Kapanpun saya berada di antara orang-orang Kristen yang bersemangat ini, konflik pun muncul. Jika kita pernah berada di antara orang-orang yang berbahagia ketika saudara dalam kesedihan, kita mengerti bagaimana mereka dapat mengganggu kita. Mereka akan sangat bahagia dan saya akan menjadi sangat sedih sehingga saya bangun dan keluar dari perkumpulan teman-teman. Sampai pada satu titik dimana saya harus pergi ke kamar tidur jam 10 malam, dan saya harus tidur sampai jam 4 pagi. Saya tahu saya harus menyingkirkannya dari pikiran saya sebelum saya berubah pikiran. Akhirnya, pikiran dan hati saya sayapun menyatu pada tanggal 9 Desember 2011 pukul 21.30 di tahun keduaku di SMA,saya menjadi seorang Kristen. Malam itu saya mendoakan empat hal untuk menetapkan bahwa saya sudah memiliki hubungan dengan Kristus. Pertama, saya berkata,"Tuhan Yesus, terima kasih telah mati di kayu salib bagiku." Kedua, saya berkata,"Saya mengakui perbuatan-perbuatanku yang tidak menyenangkanMu dan memintaMu mengampuni dan menyucikanku." Ketiga, saya berkata,"Mulai sekarang, saya membuka pintu hati dan hidupku dan mempercayaiMu sebagai Tuhan dan Juruselamatku. Ambil alih kehidupanku. Ubah hatiku. Bentuk aku menjadi pribadi yang seturut kehendakMu." Yang terakhir saya berdoa,"Terima kasih Engkau masuk dalam hidupku karena iman". Ini bukanlah iman membabi buta melainkan berdasarkan Firman Tuhan. Saya yakin kita pernah mendengar orang-orang dari latar belakang agama yang berbedabeda berbicara tentang pengalaman hidup mereka yang terbesar. Kemudian, setelah berdoa, tidak terjadi apa-apa. Saya masih tetap tidak memiliki sayap. Kenyataannya, setelah membuat keputusan ini, saya merasa diri saya buruk. Oh..tidak, pikirku, apa yang sudah kamu telan? Saya sungguh merasa hidup saya sudah hilang terlalu jauh (dan saya yakin beberapa orang juga berpikir begitu!) Akan tetapi setelah enam bulan sampai setahun , saya menemukan bahwa ternyata hidup saya belum berakhir. Hidup saya telah semakin berubah. Suatu hari saya berkata dengan kepala sekolah di SMA FRATERAN PODOR, dan saya berkata hidup saya telah diubahkan. Dia memotong pembicaraan saya dengan berkata "apa kau mencoba untuk mengatakan pada kami bahwa Tuhan telah sungguh -sungguh merubah hidupmu dalam dua puluh abad? Di bagian yang mana?" Setelah 45 menit dia berbicara,"OK, cukup." Biarkan saya mengatakan beberapa hal. Saya mengatakan ini kepadanya dan orang-orang yang hadir hari itu. Satu bagian yang Tuhan ubahkan adalah kegelisahan saya. Saya selalu sibuk. Saya berjalan di SEKOLAH dan pikiran saya seperti melayang dengan berbagai masalah didalamnya. Saya duduk dan mencoba untuk belajar, tetapi tidak bisa. Beberapa bulan kemudian setelah membuat keputusan untuk menerima Kristus, kedamaian di batin saya mulai timbul. Jangan salah mengerti. Saya tidak berkata tentang hilangnya masalah. Saya mendapati bahwa hubungan dengan Kristus tidak lantas menghilangkan masalah tetapi saya dimampukan untuk menghadapi masalah-masalah. Bagian lain yang mulai berubah adalah temperamenku yang buruk. Biasanya saya marah jika seseorang menatap mataku. Saya masih memiliki bekas luka ketika hampir memukul seseorang di bangku SMA. Temperamenku ini seperti sudah menjadi bagian dari hidupku yang tidak pernah berusaha kuubah. Saya mengalami masalah di mana saya kehilangan temperamen dan saya tahu bahwa itu sudah hilang. Hanya sekali selama 3 tahun saya marah sekali (dan ketika saya melakukannya pada saat itu, saya kemudian berusaha untuk memperbaikinya selama kira-kira 2 tahun!). Ada bagian lain yang tidak saya banggakan. Tetapi saya menyebutkannya karena banyak orang yang ingin mengalami perubahan yang sama dalam hidupnya dan saya menemukan sumber dari perubahan itu: hubungan pribadi dengan Yesus Kristus. Bagian itu adalah kebencian. Begitu banyak kebencian dalam hidup saya yang tidak terlihat dari luar, tetapi dari dalam. Saya selalu marah dengan orang lain, benda, dan persoalan. Tetapi saya membenci seorang pria lebih dari yang lain didunia ini: teman saya. Saya membenci sikapnya. Bagi saya dia seorang pemabuk yang sudah terkenal di kota ini. Semua orang tahu teman saya seorang pemabuk. Teman-teman saya sering membuat lelucon tentang teman saya yang mabuk sambil berjalan terhuyung-huyung disekitar kota. Mereka tidak berpikir bahwa itu tidak baik. Saya bersikap seperti orang lain tertawa di luar. Tetapi sejujurnya, dalam hati saya menangis. Ada saat di mana saya keluar gudang dan mendapati teman saya dipukul sampai tidak bisa bangun, terbaring di tumpukan pupuk diantara sapisapi. Saya rasa tidak ada seorangpun yang membenci orang lain seperti saya membenci teman saya sendiri saya. Setelah memutuskan untuk menerima Kristus, Dia masuk dalam hidupku dan kasihNya begitu kuat. Ia mengambil semua rasa benci dihatiku. Saya dimampukan untuk menatap sahabat saya tersebut dan berkata, “Sahabat, saya mengasihimu." Dan saya bersungguhsungguh. Setelah beberapa hal yang saya lakukan membuat dia terguncang. Ketika saya pindah ke sebuah sekolah yang bertepatan di kampung halaman saya. saya mengalami kecelakaan motor yang serius. Dengan lutut yang bertetesan darah, saya di bawa pulang ke rumah. Saya tidak akan pernah melupakan ketika sahabat saya masuk ke kamar saya. Dia berkata,"Broooo, bagaimana kamu bisa mengasihi seorang sahabat sepertiku?" Saya berkata,"Brooo, enam bulan yang lalu saya memandang rendah terhadapmu." Kemudian saya ceritakan pada sahabat yang bahwa pada akhirnya saya menerima Kristus: brooo, saya membiarkan Yesus masuk kedalam hidup saya. Saya tidak bisa menjelaskan dengan lengkap, tetapi sebagai hasil dari hubunganku denganNya saya memiliki kemampuan untuk mengasihi dan menerima tidak hanya sahabat tapi juga orang lain apapun keberadaan mereka." Lima puluh lima menit berikutnya getaran jiwa paling hebat terjadi dalam hidupku. Seseorang dalam keluargaku sendiri, seseorang yang tahu persis setiap keburukan yang kulakukan padanya, berkata kepadaku," Anakku, jika Tuhan dapat melakukan apa yang kulihat dalam hidupmu, sahabatku juga ingin memberikanNya kesempatan untuk melakukan yang sama dalam hidup." Saat itu sahabatku berdoa denganku dan mempercayai Yesus serta menerima pengampunan atas dosa-dosanya. Biasanya perubahan itu terjadi setelah beberapa hari, minggu, atau berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Hidup teman saya berubah saat itu juga. Seperti seseorang yang membungkuk ke bawah menggapai dan menyalakan bolam lampu. Saya belum pernah melihat perubahan yang begitu cepat sebelumnya. teman saya menyentuh MIRAS hanya sekali sejak saat itu. Dia menjauhkan minuman itu darinya. Sampai pada satu kesimpulanku bahwa hubungan pribadi dengan Yesus Kristus mengubahkan hidup. Saudara bisa saja menertawakan Kekristenan. Saudara bisa mengolok-olok dan menertawakannya. Tetapi Kekristenan berhasil mengubah hidup. Jika Saudara mempercayai Kristus, mulailah mengamati sikap dan perbuatan Saudara karena Yesus Kristus melakukan bisnis perubahan hidup. Saya hanya menceritakan pada Saudara apa yang telah saya alami dan pelajari. Selanjutnya, keputusan ada pada Anda. "Mungkin doa yang saya ucapkan ini bisa membantu aku:"Tuhan Yesus, saya membutuhkanMu. Terima kasih telah mati dikayu salib bagiku. Ampuni dan sucikan saya. Mulai saat ini saya mempercayaiMu sebagai Juruslamat dan Tuhanku. Jadikanku pribadi yang berkenan kepadaMu. Dalam nama Yesus.”Ini merupakan peristiwa yang di alami saya dan teman saya...dengan berdoa kepada Tuhan hidup saya dan teman saya sangat bagus di bandingkan dengan sekarang....itulah kisah hidup saya dan teman saya dengan Yesus Kristus.... 6. Pengalaman hidup bersama Kristus Oleh Agusthina Tusiyanida Kolobani Hari ini saya menuliskan pengalaman saya hidup bersama Kristus, dalam hal ini hidup itu perlu pengharapan. Saya memahami apa bedanya pengharapan dengan anganangan. Pengharapan itu tidak hanya monopoli orang Kristen. Saya percaya semua umat manusia memiliki pengharapan. Pengharapan itu adalah sesuatu yang tidak saya lihat, yang saya rindukan akan terjadi ke depan. Karena hanya dengan cara itu saya bisa maju; hanya dengan cara itu saya pun bisa mengatasi apa yang menjadi problem hidup saya sekarang. Kalau tidak ada pengharapan maka saya tidak akan punya masa depan. Kalau tidak ada pengharapan, saya tidak akan mungkin maju. Kalau tidak ada pengharapan, saya tidak mungkin akan menjalani hidup hari demi hari. Semua orang punya pengharapan, tetapi yang membedakan pengharapan dan angan-angan adalah berkaitan dengan apa isi dari pengharapan itu. Saya mengingat rasul Petrus mengatakan, “Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah. sebab isi dari apa yang saya harapkan memiliki fakta historis dan sejarah di dalam Yesus Kristus. Isi pengharapan saya real dan nyata di dalam Yesus Kristus yang sudah mati menebus dan menyelamatkan dan yang telah dimuliakan di surga. Tetapi yang menjadi persoalan adalah pengalaman saya orang yang percaya kepada Kristus itu memiliki pengalaman relasi yang berbeda. Jadi pengalaman terhadap apa yang saya alami dapat saya ceritakan melalui kesaksian hidup. Pada point ini saya cerita panjang lebar bahwa kasih Yesus itu tidak pernah lalu dari dalam kehidupan saya hari lepas hari. Di mana pada saat kondisi ekonomi keluarga saya mulai menurun, banyak cobaan yang saya alami hari lepas hari, di antaranya saya pribadi divonis oleh dokter menderita kanker pada payudara saya yang menyebabkan saya tidak berdaya dan terbaring lemah saat mendengar pernyataan yang diutarakan oleh dokter. Mulai saat itu dengan penuh rasa kecewa dan tidak berdaya, kerjaan saya sehari30 hari hanya merenung tentang kematian yang akan menjemput saya dalam waktu dekat. Saya begitu ketakutan karena saya berpikir apakah saya sudah siap untuk menghadapi maut yang akan menjemput saya? Saya pribadi tidak pernah berpikir akan mendapatkan penyakit yang sangat sulit disembuhkan oleh dokter kecuali dengan jalan operasi. Tetapi pada saat saya mengalami sakit yang luar biasa itu, jangankan operasi, biaya untuk membeli obat penahan rasa sakit pun sulit dicari, semua jalan tertutup untuk saya dan keluarga, namun dalam keadaan itulah saya menyadari bahwa Bapak yang terbaik adalah Bapak yang tidak pernah meninggalkan anaknya dalam keadaan yang sudah labil. Iman saya benar-benar diuji oleh Tuhan sehingga saya dibentuk kembali seperti bejana yang siap dipakai. Saya pun berpikir tidak mungkin Bapak yang penuh kasih memberi cobaan yang melampaui batas kemampuan saya. Saya pun teringat akan firman Nya dalam injil Matius 9 : 22b (Teguhkanlah hatimu hai anak-Ku, iman mu telah menyelamatkan engkau ). Saya dilayani oleh seorang hamba Tuhan selama 2 bulan dan Puji Tuhan mujizat Tuhan itu tidak lalu dari padaku tetapi mampir dalam hidupku dan aku mendapatkan kesembuhan. Yesus Kristus begitu indah, begitu agung, begitu mulia, betapa saya ingin bertemu dengan Dia, seperti kepingin makan makanan yang paling enak di dunia yang belum pernah kesampaian. Maka pengharapan orang Kristen itu nyata dan real, tetapi pengalaman mengalami pengharapan itu mungkin berbeda. Petrus lahir pada jaman yang sama dengan Yesus Kristus, Petrus bisa lihat langsung dan bukan saja bisa melihat Dia dengan mata kepala sendiri, tetapi bergaul bersama tiga tahun dan menyaksikan sungguh-sungguh Yesus adalah Manusia yang paling agung yang pernah hidup di atas muka bumi ini. Bukan saja melihat dan bergaul, tetapi sungguhsungguh mengalami kehadiran Anak Allah. Raja, nabi yang bernubuat ribuan tahun yang lalu mengenai Kristus, mereka begitu kepingin untuk melihat siapa Dia, apa isi dari pengharapan dan keselamatan yang dinubuatkan itu. Maka saya ingin menyimpulkan bahwa hidup itu perlu pengharapan, tetapi bagaimana menghargai, menilai dengan sungguh betapa indahnya Yesus Kristus itu bagi kita. Apabila kita mengalami keadaan yang sangat terpuruk datanglah pada Yesus karena Dialah Bapak yang tidak pernah meninggalkan anakNya dalam kesusahan apapun. Firman Nya pun berkata “Mintalah maka kamu akan diberikan, Carilah maka kamu akan mendapatkan, ketoklah maka pintu akan dibukakan bagimu “ Yesus adalah Allah yang cemburu, ketika kita mengalami cobaan yang begitu berat sehingga kita pergi kepada orang pintar untuk mendapatkan sukacita ataupun kesembuhan maka Yesus akan semakin marah dan dengan tidak langsung kita telah mendukakan hati Kristus. Oleh karena itu sebagai Orang yang percaya kepada Kristus waktu kita mengalami keterpurukan datanglah dan serahkanlah segala beban kita hanya kepada Kristus, dengan dengan iman kita yakin cepat atau lambat Doa kita akan segera dijawab oleh Yesus. Saya ingin memberi contoh, elektrik positif selalu akan bereaksi kepada elektrik negatif, kenapa? Karena memang itulah karakter dia, begitu kena elektrik negatif pasti akan konslet. Demikian Allah yang begitu suci tidak dapat berdekatan dan bersentuhan dengan dosa karena pasti Dia akan langsung bereaksi karena memang itulah hakekat realita Allah. Jika kita mengerti akan hal itu maka kita akan mengerti kenapa Tuhan membuka tangan menyelamatkan manusia melalui kematian AnakNya sendiri. Inilah berita Injil yang mau dimengerti oleh para malaikat. Bagaimana Allah yang suci akhirnya datang ke dalam dunia di dalam Yesus Kristus akhirnya mati disalib untuk menebus dosa-dosa kita sehingga kita boleh memiliki keselamatan. “Sekalipun saya belum pernah melihat Dia namun saya mengasihiNya. saya percaya kepadaNya sekalipun saya tidak melihatNya. Saya bergembira karena sukacita yang tak terkatakan…” Itulah engkau dan saya. Kita beriman, kita percaya kepada Kristus, kita hidup sebagai pendatang di atas muka bumi ini, kita adalah kelompok orang Kristen yang Petrus hargai, karena kita percaya sekalipun tidak melihat; kita mencintai Yesus sekalipun kita tidak mengenalNya secara langsung. Ini merupakan satu pujian yang indah dari Petrus, tetapi sekaligus menjadi kesulitan di dalam kita menjalani hidup iman kita, seperti Paulus katakan hidup kita sebagai pendatang we live by faith, not by sight. Kenapa saya bilang itu menjadi kesulitan? Dalam 2 Petrus kita menemukan reaksi penerima surat 1 Petrus yang sesungguhnya ingin memberikan kekuatan, ingin memberikan penghiburan, ingin memberikan dorongan kepada orang-orang Kristen yang sudah percaya dan menerima Tuhan, tetapi menjalani hidup tidak melihat apa yang diimani terjadi. Mereka akhirnya mengalami degradasi iman. Dalam 2 Pet.3:9, Petrus mengatakan, “Tuhan tidak lalai menepati janjiNya sekalipun ada orang yang menganggapNya lalai, tetapi Ia sabar terhadap kamu karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat…” Tuhan tidak lalai menepati janji. Berarti ada sebagian orang Kristen yang mempertanyakan janji Tuhan, bukan? Petrus sadar tidak gampang hidup sebagai orang Kristen. Kalau ada orang bilang, “Ayo percaya Tuhan, hidupmu pasti akan lancar dan sukses,” maafkan, realitanya tidak seperti itu. Saya tidak akan pernah menawarkan konsep seperti ini kepada orang untuk percaya Tuhan. Dengan konsep seperti itu akan berimplikasi kepada terlalu banyak kebahayaan. Kebahayaan yang pertama, berarti jalan hidup orang Kristen yang sudah ikut Tuhan tetapi penuh kesulitan, penderitaan, sakit penyakit dan air mata berarti menunjukkan imannya tidak beres. Berapa banyak iman orang yang sudah dirusak oleh konsep ini, kalau saya tidak sembuh berarti Tuhan sudah tidak sayang kepadaku; kalau saya menderita sakit dan kebangkrutan itu tanda Tuhan menghukum aku. Memberikan janji buta dan mengajarkan konsep yang salah tentang kasih Tuhan. Itu adalah hal yang diajarkan kepada anak kecil. Waktu kecil saya selalu bilang ‘mama jahat,’ kalau dia tidak mengijinkan kita makan permen. Sekarang saya tanya, apakah mama benar-benar jahat kalau dia melarang kita makan permen karena gigimu bisa sakit? Itulah anak kecil yang selalu berpikir mama baik kalau mama kasih saya makan permen sebanyak-banyaknya dan mama jahat kalau melarang saya makan. Iman seperti ini terus dibawa kepada Tuhan, kalau Tuhan sayang Tuhan pasti menyembuhkan; kalau Tuhan sayang Tuhan pasti beri apa saja yang saya minta, itu adalah iman yang salah sebab Tuhan bilang yang kamu minta bisa saja membahayakan hidupmu, itu sebab Aku tidak beri. Imanmu, pengharapanmu sudah tertuju kepada Kristus cuma bedanya Kristus itu belum pernah kamu lihat; Kristus itu belum pernah kamu raba; berbeda dengan Petrus yang sudah lihat, sudah pegang, sudah raba dan saksikan sendiri dengan mata kepalanya, tetapi saya tetap cinta Tuhan dan mengasihi Tuhan, itulah yang terpenting. Biar saya betul33 betul mengerti konsep iman pengharapan seperti ini. saya beriman walaupun apa yang saya imani mungkin tidak terealisir di dalam hidup kita. Jangan kecewa dan jangan kuatir, jangan berhenti mengikut Tuhan. Apa yang Tuhan janjikan, apa yang menjadi isi pengharapan saya adalah sesuatu yang pasti, yang tidak akan pernah hilang dari hidup saya. Apapun perjalanan hidup saya biar itu menjadi indah di dalam penyertaan dan tenunan Tuhan. Itu sebab pengharapan saya menjadi satu sukacita yang tidak terkatakan waktu saya ketemu dengan Kristus. Kiranya Tuhan memimpin dan menyertai saya. AMIN. 7. Saya hanya punya Yesus Oleh Febronius Timu, Victorius Un, Rosario F.S. Alves Hidup ini dinamis. Bergerak, berubah, naik – turun tak menentu. Banyak kisah terjadi, banyak cerita, peristiwa dan pengalaman dialami. Entah pengalaman itu menyenangkan, memilukan, menyedihkan, menegangkan, dan membingungkan ataupun mengherankan. Ini sebuah suasana dan warna – warni hidup, bahkan sebuah hukum alam yang selalu menghiasi hidup dan kehidupan ini. Semua orang yang hidup pasti mengalami termasuk saya. Selama 21 tahun terlahir sebagai seorang manusia, saya selalu berhadapan dengan beragam cerita, peristiwa dan pengalaman. Semua yang saya alami merupakan kekayaan hidup dan menjadi guru, cermin, bahan renungan dan bahan refleksi, dalam menapaki jalan kehdupan ini. Ada sebuah peristiwa dan pengalaman yang pernah singgah dalam hidup saya. Pengalaman ini membingungkan dan mengherankan. Ini saya alami tepatnya tanggal 20 februari 2011. Waktu itu saya sedang menjalani masa orientasi rohani di seminari tinggi TOR Lo’O DAMIAN Atambua Belu NTT. Pada tanggal itu sebuah peristiwa memiluhkan datang dalam hidup saya. Saya diserang oleh penyakit hernia. Penyakit ini biasanya dialami oleh lelaki pada umumnya. Menurut cerita yang saya dengar, penyakit ini berbahaya bahkan mematikan kalau tidak segera ditangani sesegera mungkin. Saya sangat takut waktu itu. Saya susah untuk berjalan apalagi bekerja. Saya sungguh tertekan karena yang bisa saya lakukan waktu itu adalah duduk dan tidur di dalam kamar. Esok harinya (tanggal 21 februari 2011), saya diantar ke rumah sakit umum daerah untuk segera memperoleh pertolongan dari dokter. Di rumah sakit saya diperiksa seorang perawat yang ramah dan cantik. Hasilnya sangat mengejutkan dan menakutkan saya. Saya divonis bahwa kalau saya memang benarbenar diserang penyakit hernia. Saya kurang yakin dengan hasil pemeriksaan tersebut,oleh karena itu saya kemudian menghadap dokter untuk berkonsultasi lebih lanjut mengenai penyakit yang diderita. Menurut saya dokter lebih ahli dan lebih profesional dalam memeriksa pasien. Sayapun diperiksa oleh dokter. Hasilnya sama saja saya memang benar-benar diserang penyakit hernia. Kata dokter penyakit ini sangat berbahaya dan bahkan mematikan. Satu – satunya jalan keluar adalah dengan operasi ini berita yang menegangkan, menakutkan, membingungkan. Saya kewalahan ! Saya hanya bisa menangis dan bersedia untuk dioperasi. Dokter memberi waktu selama ampat hari untuk berpikir dan segera memberitahukan hal ini kepada orang tua sekaligus mohon persetujuan dan restu dari orang tua serta segenap keluarga agar menandatangani berkas- berkas medis yang perlu untuk menjalani proses operasi. Saya sangat stres karena takut dioperasi dan lebih dari itu sayapun takut akan kematian. Dalam perjalanan pulang hingga tiba di tempat pembinaan saya berdiam tampa kata. Bagaimana kalau proses operasinya gagal dan saya meninggal ??? Ini adalah pertayaan yang sering muncul dalam benak dan seringkali datang menghantui pikiran saya. Satu lagi, tidak ingin dioperasi dan tidak ingin orang tua tahu hal ini. Setelah bergelut dengan peristiwa ini, saya kemudian mencoba untuk menormalkan pikiran agar mencari solusi yang mungkin bisa membantu saya cepat bebas dari penderitaan ini. Beberapa teman menyarankan saya agar mengunakan ramuan tradisional. Saya setuju dengan usulan mereka tapi saya tidak begitu yakin kalau nanti dengan meminum ramuan itu penyakit itu akan sembuh total. Lagipula kesempatan yang diberi dokter hanya beberapa hari, saya dilema. Saya sungguh dilema. Sore harinya, seorang teman mengantarkan secerek ramuan yang sudah direbus (sarang semut). Secara spontan saya kemudian menyempatkan diri untuk berdoa beberapa menit sambil merendam ujung salib kedalam ramuan tersebut sebelum diminum. Saya percaya bahwa dengan berdoa penyakit itu pasti pulih, apa lagi dengan merendam salib yang adalah lambang keselamatan umat kristiani. Saya yakin bahwa Yesus selalu ada untuk saya. Dia selalu mencintai saya. Saya yakin dan percaya bahwa dengan melibatkan Tuhan Yesus maka derita ini pasti berlalu. Saya memang lemah, tak punya kekuatan tapi saya punya Yesus. SAYA HANYA PUNYA YESUS. Dia satu – satunya yang dapat saya andalkan. Dia penyelamat tunggal. Semua kekurangan saya akan ditambahkanNya. Semua penderitaan saya pasti hilang kalau berharap dan percaya padaNya. Kasih Yesus tidak akan habis dikikis kemanusiaan dan keberdosaan saya. Kasihnya tak terbatas dan tak berujung. Dengan keyakinan seperti ini maka sebelum meminum ramuan tersebut saya berdoa terlebih dahulu. Alangkah baiknya saya perlu menyertakan doa yang saya ucapkan waktu itu. Inilah doa saya:” YA YESUS, saya ini manusia munafik, penuh dosa. Saya hanya dekat denganMU saat saya benar-benar membutuhkan pertolonganMu seperti sekarang ini, tapi aku yakin dan percaya bahwa kasih dan cintaMu tak ada batas dan tak berujung. Saya percaya bahwa dengan mencelupkan salib lambang keselamatanMu pada ramuan ini maka penderitaan yang saya alami pasti berakhir. Saya butuh campur tanganMu untuk menjauhkan penyakit ini dari saya. Saya serahkan semua ini pada kehendakMu, AMIN.” Usai berdoa saya meminum ramuan tersebut lalu tidur. Ini spontan saya lakukan bukan direncanakan sebelumnya. Sedangkan untuk seterusnya, ketika hendak meminum ramuan tersebut, saya hanya berdoa sekali Bapa Kami dan Sekali Salam Maria dengan tetap merendam ujung salib ke dalam ramuan tersebut. Ini saya lakukan selama dua hari. Apa yang terjadi??? Tiga hari kemudian saya merasa penyakit itu telah hilang. Saya lalu ke dokter untuk memastikan hal tersebut. Dan memang benar! Penyakit itu telah pulih. Dokter terlihat heran bahkan berkata bahwa ini ajaib. YA, memang ajaib. Ini adalah keajaiban dan kuasa Yesus. Semua ini bisa terjadi berkat kuasa Yesus. Yesus telah menyembuhkan saya. Dia peduli dengan penderitaan saya. Seandainya bukan campur tangan Tuhan pasti sekarang saya sedang berada di dunia lain. Bagi saya, peristiwa ini merupakan satu kebanggaan yang tiada duanya. Saya kembali ke tempat pembinaan dengan penuh semangat dan gembira ria, tapi saya lupa bersyukur. Ini sebuah kisah yang mengerikan menurut saya. Saya memang benar-benar lupa diri. Memang saat itu saya terlampau senang dan terlalu bahagia sampai saya lupa bersyukur. Manusiawi memang. Tapi seharusnya hal ini tidak harus saya lakukan. Apa lagi saya lakukan kepada Yesus. Sesuatu yang sangat ironis dan menyedihkan.Saya baru menyadari hal ini beberapa bulan kemudian saat saya sedang menyendiri dan merenung lalu menyempatkan diri untuk bersyukur. Saya baru sadar. Sadar terlambat. Saya sangat menyesal. Saya manusia yang lupa bersyukur. Hingga detik ini, ketika peristiwa itu terekam kembali, saya selalu merasa terganggu dan selalu merasa bersalah. Saya sadar bahwa ini suatu kejadian yang tidak pantas saya perbuat. Sungguh menyedihkan memang. Terlalu menyedihkan. Kisah yang saya ceritakan bukan untuk menunjukkan kalau saya manusia religius. Itu bukan maksud saya. Saya memang manusia munafik yang lupa bersyukur. Saya juga tidak tahu seberapa besar iman saya dan bagaimana harus mengukurnya. Saya manusia munafik yang terus berdoa dengan kemunafikan saya. Saya tidak memiliki kekuatan supranatural sedikitpun. Saya juga bukan seorang pendoa hanya saja saya sering berdoa dan percaya bahwa di dalam Yesus ada keselamatan. Kisah di atas hanya sebuah pengalaman iman yang perlu saya saksikan. Semoga melalui pengalaman ini semua orang dapat melihat kebesaran kasih Yesus. Bahwa Yesus selalu hadir dan menyapa semua kita tanpa melihat kemanusiaan kita. Yesus ada untuk siapa saja, kapan saja, dimana saja dan dalam situasi apa saja. Dia hadir di setiap lorong dan waktu. Dan yang terakhir yang tidak boleh terlupakan adalah bahwa YESUS TIDAK PERNAH BERHENTI MENCINTAI KITA. ‘Barang siapa yang mencari, mendapat; siapa yang meminta, menerima; dan siapa yang mengetuk pintu akan dibukakan baginya’. Kutipan injil di atas menggambarkan Kebesaran kasih Yesus. Dia selalu peduli dan tidak pernah berhenti mencintai kita. 8. Pengalaman hidup bersama Yesus Oleh Karolus P. Mbawu, Vinsensius B. Ceme, Bernardinus Jemanto Keluaga harmonis merupakan impian oleh semua orang, saya pun demikian: dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga yang harmonis. Ayah ibuku sangat menyayangi kami, mereka begitu setia dan saling mensupport satu sama lain apabila sedang menghadapi masalah yang menimpa kehidupan rumah tangga kami. Tak pernah sekalipun saya mendengar ayah ibu berbicara kasar oleh karena itu keluarga kami hidup sangat rukun. Sejak kecil saya diajarkan cara hidup beragama. Setiap malam sebelum tidur kami sekeluarga berkumpul bersama di ruang doa dan berdoa mensyukuri serta memohon perlindungan Tuhan untuk hari-hari selanjutnya. Semenjak masuk sekolah dasar,saya diperbolehkan untuk mengikuti kegiatan SEKAMI (serikat kepausan anak misioner Indonesia) dan kegiatan-kegiatan lain yang berkaitan dengan iman katolik. Saya sangat antusias mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut. Sebagai seorang anak yang patuh terhadap orangtua, saya juga dianggap anak yang cukup cerdas di sekolah dan tidak memilih teman dalam pergaulan sehari-hari. Selain itu saya juga dijadikan teladan untuk teman-teman yang berada di lingkungan tempat tinggal keluarga. Setelah lulus SMP orangtuaku berkeinginan menyekolahkan saya di seminari, keinginan mereka saya wujudkan. Tes masuk seminari selama tiga hari, diadakan di seminari st.Brahmans Todabelu Mataloko. Peserta tes sekitar 600 orang, dari berbagai daerah di Indonesia. Hasilnya sangat memuaskan saya dinyatakan lulus dan diterima sebagai siswa baru penghuni seminari st.Bahmans Todabelu. Siswa baru wajib mengikuti MOS(Masa Orientasi Siswa),kegiatan MOS dilakukan selama 4 hari. Kegiatan ini bertujuan untuk membina sikap dan mental kami. Selain itu untuk mengenal satu dengan yang lainnya. Kegiatan MOS berjalan dengan lancar dan pada saat penutupan MOS diadakan acara permintaan maaf oleh para panitia pengurus OSIS atas perlakuan mereka selama kegiatan berlangsung yang kurang memuaskan hati kami. MOS sudah dilaksanakan dan kini memulai KBM(kegiatan Belajar Mengajar). Hari pertama merasakan kursi seminari begitu sangat berbeda, sepertinya ada yang kurang. Tak kulihat lagi sahabat-sahabatku, saya seperti berada di tempat pengasingan. Segalanya serba baru, membuat saya ragu untuk memulai aktivitas. Kegiatan Belajar Mengajar berjalan dengan lancar, ujian semester satu pun diadakan. Saya dan teman-teman menghadapinya dengan hati gembira karena telah mempersiapkan jauh-jauh hari. Nilai ujian sangat memuaskan, tak ada angka merah. Orangtuaku merasa bangga karena saya bisa bersaing dengan siswa lain. Semester pertama saya mendapat peringkat lima besar. Hal itu tidak dengan mudah saya gapai akan tetapi melalui sebuah usaha yang sangat besar dan juga meminta pertolongan Tuhan untuk menerangkan Roh Kudus agar semua pelajaran yang telah dipelajari dapat dengan mudah diingat. Saya berterimakasih kepada Tuhan. Atas berkat dan bantuan-Nya saat mengikuti ujian semester. Namun dengan hasil yang sudah saya raih, tidak membuat saya sombong dan angkuh. Saya selalu mensyukuri dan berdoa, mohon pada Tuhan untuk memberkati hari-hari hidupku selanjutnya. Untuk kedua orangtuaku yang sangat menyayangi aku, aku bangga dan bersyukur memiliki kalian berdua. Sosok yang tak akan pernah kulupakan seumur hidupku. Tuhan aku berdoa padaMu, berikan selalu kesehatan untuk bapak-mama, berkatilah semua usaha dan harapan mereka. Jadikan keluarga kami seperti keluarga Nasaret, yang selalu setia padaMu, tak lupa juga buat saudara saudariku yang selalu mendukung dan membuat saya semangat, sertailah mereka di setiap derap langkah hidupnya. Kebahagiaan dan rasa syukurku pada Tuhan dan orangtua berangsur-angsur pudar. Ketika saya hendak melakukan aktifitas belajar, pikiranku selalu terganggu oleh hal-hal yang menyenangkan di luar seminari. Dampaknya terlihat pada ujian semester dua, nilai ujianku sangat parah, tak ada satupun matapelajaran yang di atas standar. Saya dikeluarkan dari seminari karena nilai dan perilakuku yang kurang baik. Orangtuaku sangat terpukul akan tetapi mereka tidak putus harapan. Saya senang dengan keputusan yang diberikan oleh pihak sekolah, maka saya akan bebas menjalani hidupku. Melakukan semua keinginan yang telaah lama saya pendam dalam seminari. Saya bahagia, semua keinginanku terpenuhi tanpa memikirkan baik buruknya. Awal kehancuran kian mendekat menghampiriku. Saya mulai malas-malasan untuk mengikuti pelajaran di sekolah. Pergaulan bebas serta lingkungan yang sangat mendukung untuk saya melakukan hal-hal yang menyimpang nilai dan norma. Hidupku benar-benar hancur, saya mengkonsumsi miras dan merokok. Kebutuhanku semakin meningkat dan saya selalu menyalahgunakan uang yang dikirim oleh orangtua. Terkadang uang untuk pembayaran spp saya gunakan untuk membeli miras dan rokok. Sangat disayangkan pengorbanan orangtuaku saya sia-siakan, cucuran keringat mereka tidak terbalaskan malah mereka menambah beban pikiran karena ulah anaknya sendiri. Ibu merelakan meninggalkan tugasnya sebagai guru swasta demi anaknya yang tidak tahu berterimakasih ini. Meski demikian saya tetap saja tidak mengubah kebiasaan-kebiasaanku. Sekolahku menjadi terbengkelai karena saya lebih memfokuskan pada urusan-urusan yang kurang penting seperti bermain sepak bola, bermain PS dan lain-lain yang menghambat proses belajar di sekolah. Saya rela meninggalkan sekolah tanpa pemberitahuan. Berulang kali saya melakukan hal serupa namun terkadang guru rela mencari dan menjemputku di kos untuk pergi ke sekolah mengikuti KBM(kegiatan belajar mengajar) bersama teman-teman. Selama 4 semester saya tidak pernah ke gereja dan menghubungi orangtua. Saya bebas menjalani hidup sendirian tanpa ada seorang yang membimbingku. Hal ini diketahui oleh seorang guru, dia datang menemui saya di kos dan berdialog dengan saya. Guru tersebut menanyai hubungan saya dengan keluarga dan sesama di sekolah. Setelah mendengar pengakuanku ia dengan rela memberi tumpangan untuk saya di rumahnya.Setelah sebulan saya tinggal bersama keluarganya ia menghubungi orangtuaku untuk segera datang karena saya sudah mau pulang kembali ke rumah. Saya merasa sangat bersalah dalam hidupku ketika ayah dan ibuku datang melihat saya mereka menangis terharu dan merangkulku. Hari itu juga saya pulang ke rumah, orangtuaku gembira karena saya bersama mereka lagi. Sungguh saya sesali hidupku itu, selama semalam saya merenungkan semuanya dalam kamar. Tak terasa air mata membasahi pipiku, mulai saat itu saya mendekatkan diri kepada Tuhan. Berdoa memohon pengampunan atas kesalahan yang telah saya perbuat terhadap kedua orangtua yang telah melahirkan dan membesarkan saya. Tiga tahun saya lewati masa SMA, begitu banyak pengalaman dan kisah indah yang menyenangkan dan juga yang tidak menyenangkan saat bersama teman-teman. Namun pada akhirnya harus berpisah juga, saat penerimaan amplop tanda lulus, saya bersyukur karena saat membuka amplop, ternyata saya lulus dan sekolah kami kelulusannya 100%. Rasanya tidak ingin berpisah dengan sahabat dan juga para guru, masa SMA yang sangat indah.